Menu

Mode Gelap

OOTS · 28 May 2023 15:16 WIB ·

Banyak yang Salah Selama Ini, Ternyata Dajjal Tinggal di Pulau Terpencil Perairan Masalembo Indonesia


 Pulau terpencil di perairan Masalembo Indonesia. (Foto: Istimewa) Perbesar

Pulau terpencil di perairan Masalembo Indonesia. (Foto: Istimewa)

Berita Website – Bagi kamu umat beragama, Dajjal tentu sudah akrab di telinga sebagian besar umat Islam. Dajjal merupakan seorang tokoh dalam Islam yang akan muncul menjelang akhir zaman.

Sosok ini digambarkan sebagai makhluk yang mengerikan dan akan menghancurkan manusia dengan fitnah-fitnah yang keji, pembunuhan dan peperangan.

Bahkan disebutkan, tidak ada ujian yang lebih besar dibandingkan kemunculan Dajjal.Dajjal dalam Islam digambarkan sebagai sosok dari golongan  manusia, yang pasti akan datang dan perlu diwaspadai oleh umat Islam.

Sesungguhnya Alquran tidak menjelaskan secara detil tentang sosok Dajjal ini. Akan tetapi, umat Islam wajib percaya akan kemunculan Dajjal di akhir zaman.

Berdasarkan Hadits, Dajjal memiliki ciri-ciri fisik tertentu yakni, cacat pada mata kirinya, memiliki rambut keriting yang lebat, berperawakan besar, bertubuh gempal, dan mempunyai jalan yang tidak normal. Ciri lain yang dimiliki oleh Dajjal adalah terdapat tulisan Kaf-Fa-Ra yang berarti kafir di antara kedua matanya.

Kisah hidup Dajjal

Dajjal lahir dari sebuah keluarga penyembah berhala di zaman setelah Sam bin Nuh. Ia dilahirkan di wilayah Palestina di dekat Sodom dan Gomorah (umat kaum Luth) dalam keadaan cacat di matanya.Sejak kecil, Dajjal suka menyusahkan orang tuanya.

Tidur selama empat tahun lamanya dan tidak bisa berjalan. Suatu hari, Dajjal kecil terbangun dan mendatangi berhala sesembahan kedua orang tuanya lalu tidur lagi di pangkuan berhala itu. Saat itulah orang tuanya mengumumkan kalau anaknya itu adalah anak Tuhan.

Orang-orang yang sebelumnya mendengar sang anak tidak bisa berjalan kemudian mencemoohnya, sebagian lainnya meganggap Dajjal kecil sebagai berkah.

Selanjutnya, orang tua anak ini tersebut lalu dilaporkan ke hakim dan diputuskan keduanya harus berpisah dengan sang anak (Dajjal). Anaknya ditahan di pengadilan sedangkan orang tua di bagian lain penjara.

Saat penduduk Sodom dan Gomorah mendapat azab, anak tersebut diselamatkan Malaikat Jibril ke sebuah pulau tak berpenghuni di laut Yaman.

Selama di pulau itu, Jibril menugaskan seekor binatang berbulu untuk merawat dan membantu si anak cacat itu. Singkat cerita, ketika sudah besar, ia memutuskan keluar dari pulau dan mulai mengembara. hingga kemudian bertemu dengan Nabi Musa, dan Nabi Isa.

Pertemuan Dajjal dengan Nabi Musa

Pada awalnya Dajjal menjadi pengikut Nabi Musa, namun di balik pertemuan itu ia memiliki maksud jahat. Karena kagum dengan Musa, Dajjal kemudian menggunakan nama Musa.

Ia memakai nama Musa Samiri alias Musa dari Samirah, tempat lahirnya di Palestina. Karena perbuatannya mengajak Bani Israil membuat patung anak lembu dan menyembahnya, maka Nabi Musa mengusir Musa Samiri (Dajjal). (Lihat QS Thaha :97).

Tak ada yang mengetahui pasti kemana Samiri pergi setelah diusir oleh Nabi Musa. Muhammad Isa Daud menyebutkan bahwa sejak diusir itu, Samiri kembali mengembara ke berbagai wilayah. Ia terus belajar tentang sikap manusia dan mencari celah untuk menjerumuskan manusia.

Jelang kelahiran Rasulullah SAW

Beberapa saat sebelum kelahiran Rasulullah SAW, Dajjal kembali ke pulau tempat ia dibesarkan oleh makhluk berbulu tebal itu. Ketika sampai disana, Dajjal disuruh berjalan ke bagian dalam gua oleh makhluk tersebut.

Saat membelakangi dinding gua itulah, Dajjal kemudian terpasung. Disebutkan bahwa ikatan itu akan lepas saat waktunya tiba. Menurut penuturan Isa Daud, Dajjal terpasung selama lebih kurang 63 tahun, sama dengan usia Rasulullah SAW.Setelah bebas, Dajjal kembali mengembara.

Puncaknya, ia pergi ke Segitiga Bermuda dan akhirnya bertemu dengan setan. Ia sangat diagungkan oleh setan dan keduanya membuat perjanjian bersama, untuk menghancurkan umat manusia dan memalingkannya dari menyembah Allah.Berdasarkan keterangan Muhammad Isa Daud, hingga hari ini Dajjal masih hidup dan diperkirakan sudah berusia lebih dari 4.000 tahun.

Menariknya, tubuh fisik Dajjal masih tetap muda dan tidak ada yang bisa menandingi kekuatannya hingga turunnya Isa Al-Masih, putra Maryam, yang nanti akan membunuhnya.

Terbunuhnya Dajjal oleh Nabi Isa

Telah kita ketahui bersama bahwa di akhir zaman nanti, Nabi Isa AS akan turun ke muka bumi. Salah satu tugas Nabi Isa AS ketika turun ke bumi adalah memimpin kaum Muslimin untuk membunuh Dajjal yang menjadi musuh terbesar umat Islam.Pekerjaan pertama yang akan dilakukan oleh Nabi Isa AS adalah menghadapi Dajjal.

Usai turun, Isa AS menuju Baitul Maqdis tempat Dajjal dikepung oleh pasukan Muslim. Isa AS memerintahkan mereka untuk membuka pintu.Dalam Sunan ibn Majah, Shahih Ibn Khzaimah, dan Mustdrak al-Hakim diriwayatkan dari Abu Umamah, bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Isa AS berseru,’Bukakan pintu!’

Mereka lalu membukanya dan dibalik pintu itu ada Dajjal bersama 70.000 Yahudi, yang semuanya membawa pedang dan perisai.Ketika Dajjal memandang Isa AS, dia luluh laksana garam mencair di air, lalu melarikan diri. Isa AS mengejarnya sampai di gerbang Ludd Timur, kemudian membunuhnya, dan Allah mengalahkan Yahudi.

Pulau di Sekitar Yaman Itu Sebenarnya Pulau di Indonesia?

Dalam keterangan dari buku yang berjudul Kiamat: Tanda-tandanya Menurut Islam, Kristen, dan Yahudi oleh Manshur Abdul Hakim, Nabi SAW pernah menyebutkan bahwa Dajjal berlokasi di suatu pulau sekitar Laut Yaman. Namun saat ini banyak yang percaya yang dimaksud Laut Yaman itu adalah laut atau perairan di Nusantara yaitu Indonesia.

Informasi mengenai tempat berdiam dirinya Dajjal ini diketahui melalui sebuah hadits dari Fatimah binti Qais. Dalam hadis tersebut, diceritakan tentang salah seorang sahabat nabi yakni Tamim Ad-Dari yang pernah bertemu Dajjal dan Al-Jassasah pada masa Rasulullah.

Saat Tamim Ad-Dari menemukannya, Dajjal dalam kondisi terbelenggu kedua tangan hingga lehernya. Sedangkan kedua lutut hingga mata kakinya terikat dengan rantai besi.

Hadits mengenai Tamim Ad-Dari juga dikenal oleh kalangan para ulama dengan sebutan ‘hadits al-Jassasah’. Keterangan tersebut diriwayatkan dalam Shahih Muslim, Kitab al-Fitan wa Asyraath us-Saa’ah, Bab ‘Ibnu Shayyaad’.

“Dari ‘Amir bin Syarahil bahwa dia bertanya kepada Fatimah binti Qais, saudari Adh-Dhahhak bin Qais, wanita itu termasuk orang yang berhijrah pertama kali. Fatimah berkata:

“Aku mendengar suatu seruan untuk menunaikan sholat berjamaah. Kemudian aku berangkat ke masjid untuk mendirikan sholat bersama Rasulullah. Aku berada di barisan kaum wanita yang letaknya di belakang kaum laki-laki. Seusai sholat, Rasulullah duduk di mimbar sambil tertawa, lalu bersabda:

“Setiap orang hendaknya diam di tempatnya masing-masing. Tahukah kalian, mengapa aku mengumpulkan kalian sekarang?”

Kaum muslim kala itu menjawab, ‘Allah dan rasul-Nya yang lebih tahu.’

“Aku bukan mengumpulkan kalian karena untuk memotivasi atau memberi peringatan. Aku mengumpulkan kalian karena Tamiim Ad-Daari, yang dulunya merupakan seorang penganut Nasrani, datang ke sini dan masuk Islam. Dia menceritakan kepadaku sesuatu yang pernah aku sampaikan kepada kalian mengenai al-Masih ad-Dajjal.”

Nabi SAW melanjutkan, “Dia bercerita bahwa dirinya bersama 30 orang dari suku Lakhm dan Jadzam, berlayar dengan sebuah kapal. Mereka dipermainkan ombak besar selama satu bulan di tengah laut . Kemudian mereka berlabuh ke sebuah pulau di tengah laut, hingga matahari tenggelam.”

Rasulullah melanjutkan, “Mereka duduk-duduk di dekat kapal, kemudian memasuki pulau itu. Mereka bertemu seekor binatang besar yang berbulu lebat, sedemikian lebatnya bulu hewan tersebut sehingga mereka tidak dapat membedakan mana bagian depan dan mana yang belakang. Mereka bertanya, ‘Siapa kamu?’

Binatang itu menjawab, ‘Aku adalah al-Jassasah (mata-mata).’ Mereka bertanya, ‘Apakah al-Jassasah itu?’

Dia menjawab, ‘Wahai orang-orang. Temuilah orang yang ada di dalam gua itu, sebab dia sangat menanti-nantikan berita dari kalian.’

Tamim berucap, ‘Ketika binatang itu menyebut keberadaan seseorang, kami khawatir, jangan-jangan binatang tersebut adalah setan. Kami pun cepat-cepat pergi memasuki gua.

Dan ternyata di dalamnya kami lihat ada seorang manusia bertubuh sangat besar, merupakan pria terbesar yang pernah kami lihat dan paling kuat ikatannya. Tangannya terbelenggu ke lehernya. Kedua kakinya juga terikat dengan besi.’

Mereka lalu bertanya, ‘Apa sebenarnya kamu ini?’

Dia menjawab, ‘Kalian telah mendapat kabar tentang aku. Siapa kalian ini?’

Mereka menjawab: ‘Kami adalah bangsa Arab. Kami berlayar dengan kapal. Kami dipermainkan ombak yang sangat besar selama sebulan. Lalu kami berlabuh ke pulaumu ini.

Kami duduk-duduk tidak jauh dari kapal kami. Lalu kami memasuki pulau dan bertemu seekor hewan yang berbulu sangat lebat, dan dia menyuruh kami untuk mendatangi istana ini karena orang yang di dalamnya sangat ingin mendengar berita dari kami. Kami segera menemuimu di sini, padahal kami tidak tahu apakah kamu setan atau bukan.’

Pria itu bertanya, ‘Ceritakanlah kepadaku tentang Nukhail Bisan (sebuah kampung di Syam, tepatnya Palestina, sebelah sungai Thabriyah).’ Kami bertanya, “Apanya yang kamu tanyakan?’

Dia kembali bertanya, ‘Aku bertanya tentang kurmanya, apakah berbuah?’ Kami jawab, ‘Ya, masih berbuah.’ Dia berkata, ‘Ketahuilah, kurma di sana nanti tidak berbuah.’

Dia berkata lagi, ‘Lalu bagaimana keadaan Danau Thabariyyah?’ Kami balik bertanya,’Apanya yang ingin kamu ketahui?’

Pria itu bertanya,’Apakah danau itu ada airnya?’ Kami menjawab, ‘Ya, airnya berlimpah.’ Dia berkata, ‘Air danau itu nanti akan habis.’

Lelaki itu bertanya, ‘Lalu bagaimana dengan mata air Zughar?’ Kami bertanya, ‘Apanya yang kamu tanyakan?’

Dia menjawab, ‘Apakah mata air tersebut memancarkan air? Dan apakah penduduk disana bercocok tanam dengan memanfaatkan air dari mata air itu?’ Kami menjawab, ‘Ya. Airnya banyak, dan penduduk di sana bercocok tanam dengan airnya.’

Dia bertanya, ‘Ceritakanlah kepadaku, apa yang dilakukan oleh nabi yang diutus kepada bangsa yang buta huruf (bangsa Arab)?’ Kami menjawab, ‘Dia telah keluar dari Mekah, dan tinggal di Yatsrib.’ Pria itu bertanya, ‘Apakah orang-orang Arab memeranginya?’ Kami menjawab, ‘Ya.’

Tanya dia kembali, ‘Bagaimana dia melawan mereka?” Kami menjawab, ‘Dia telah menang atas orang-orang Arab, dan sekarang mereka tunduk, taat kepadanya.’

Dia berkata, ‘Begitukah?’ Kami berkata, ‘Ya, memang begitu.’ Dia berkata, ‘Ketahuilah, memang lebih baik mereka menaatinya.’

Lelaki itu melanjutkan, ‘Sekarang aku beritahu kalian tentang diriku. Aku adalah al-Masiih. Telah hampir tiba waktunya aku diizinkan keluar. Kalau aku telah keluar, aku menjelajahi bumi, tidak satu pun perkampungan yang tidak aku singgahi selama empat puluh hari, kecuali Makkah dan Thayyibah (Madinah).

Kedua kota itu diharamkan bagiku memasukinya. Setiap kali aku mau memasuki keduanya, aku dihadang malaikat yang memegang pedang terhunus, menghalangiku memasukinya. Di setiap jalan dari kedua kota itu terdapat malaikat yang menjaganya.’

Fatimah berkata, ‘Sambil menekan tongkatnya pada mimbar, Rasulullah bersabda, “Ini (yakni Madinah) adalah Thayyibah. Ini adalah Thayyibah. Bukankah sebelumnya aku telah menyampaikan hal itu kepada kalian?”

Orang-orang muslim pada saat itu menjawab, ‘Benar!’ Beliau melanjutkan sabdanya:

فَإِنَّهُ أَعْجَبَنِي حَدِيثُ تَمِيمٍ أَنَّهُ وَافَقَ الَّذِي كُنْتُ أَحَدِتْكُمْ عَنْهُ وَعَنِ الْمَدِينَةِ وَمَكَّةَ أَلا إِنَّهُ فِي بَحْرِ الشَّامِ أَوْ بَحْرِ الْيَمَنِ لَا بَلْ مِنْ قِبَلِ الْمَشْرِقِ مَا هُوَ مِنْ قِبَلِ الْمَشْرِقِ مَا هُوَ مِنْ قِبَلِ الْمَشْرِقِ مَا هُوَ

Artinya: “Cerita Tamim sangat menakjubkan hatiku, sangat sesuai dengan apa yang pernah aku sampaikan kepada kalian tentang Madinah dan Makkah. Ketahuilah, dia (Dajjal) ada di Laut Syam atau Laut Yaman. Tidak, melainkan dari arah timur. Dia dari arah timur, dari arah timur.”

Pulau Terpencil di Perairan Masalembo

Perairan Masalembo disebut-sebut sebagai segitiga bermuda Indonesia dan tempat tinggalnya Dajjal. Alasannya, sering terjadi kecelakaan kapal atau pesawat di kawasan tersebut.

Selain penuh misteri ada satu pulau misterius di sana, ternyata Masalembo memiliki sederet fakta menarik lainnya. Dirangkum dari Jurnal “Saintek Maritim, Vol. XVI No. 2 Misteri Segitiga ‘Masalembo’ merupakan Segitiga Bermuda di Wilayah Indonesia”

Segitiga Masalembo berada di sekitar Kepulauan Masalembo. Tepatnya, berada di kawasan segitiga imajiner di perairan Laut Jawa antara Pulau Bawean di Jawa Timur, Kota Majene di Sulawesi Barat, dan Pulau Tengah di Nusa Tenggara Barat.

Secara geografis, Kepulauan Masalembo memiliki empat pulau, tiga di antaranya merupakan pulau utama yang berpenghuni, yakni Pulau Masalembo, Masakambing, dan Karamian. Sementara itu, pulau tanpa penghuni di Kepulauan Masalembo dikenal sebagai Pulau Kambing yang dipenuhi ular.

Secara administratif, Kepulauan Masalembo berada di Kabupaten Sumenep, Madura Jawa Timur. Luas total wilayahnya mencapai 40,85 km persegi. Kawasan kepulauan ini berbatasan langsung dengan Laut Jawa di seluruh sisinya. Perairan Masalembo dijuluki sebagai segitiga bermuda asal Indoneisa. Pasalnya, banyak kecelakaan kapal dan pesawat di kawasan ini.

Dua kasus yang paling menyita perhatian adalah kecelakaan KM Tampomas II dan hilangnya pesawat Adam Air. Kecelakaan KM Tampomas II terjadi pada 25 Januari 1981. Kapal itu terbakar ketika tengah bertolak dari Dermaga Tanjung Priok menuju Ujungpandang. KM Tampomas II membawa 1.105 Penumpang, 191 mobil, dan 200 motor.

Akibat insiden tersebut, 431 orang tewas termasuk sang kapten, Abdul Rivai. Sedangkan pesawat Adam Air tujuan Surabaya-Manado yang terbang pada 1 Januari 2007. Pesawat yang membawa 102 penumpang itu dinyatakan hilang tanpa jejak setelah tak bisa dihubungi ATC Makassar. Berdasarkan rekaman kotak hitam yang ditemukan di perairan Majene oleh Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT), disimpulkan bahwa Adam Air jatuh menabrak permukaan air laut hingga terbelah dua. Kasus terakhir yang terjadi di Perairan Masalembo adalah Kapal Ro-Ro KM Santika Nusantara dengan rute Surabaya-Balikpapan yang terbakar saat melaut pada pada Kamis, 22 Agustus 2019 pukul 20.45 WIB. Untungnya, seluruh penumpang dinyatakan selamat, tak ada korban jiwa.

Pertemuan Arus

Ada sejumlah faktor yang menyebabkan kenapa daerah Segitiga Masalembo berbahaya. Faktor pertama dipengaruhi adanya pertemuan arus yang disebut Arlindo.

Arus Arlindo sangat dipengaruhi oleh cuaca dan musim. Sementara dari arah selat Makassar ada arus lain yang merupakan thermoklin, atau aliran air laut akibat perbedaan suhu lautan.

Kedua arus ini bertemu di sekitar Segitiga Masalembo. Meski gerakan arusnya tidak kencang, tetapi tetap memengaruhi pelayaran di wilayah tersebut. Di Segitiga Masalembo, terkadang terjadi arus laut dan angin yang mengalir akibat adanya perbedaan tekanan dalam siklus harian maupun tahunan. Lalu keduanya bertemu dan menjadi satu, membentuk seperti tornado, badai, hurricane ataupun typhoon dalam putaran yang lambat tapi bisa tiba-tiba berubah arah.

Segitiga Masalembo dipercaya masyarakat setempat sebagai lokasi bernaungnya kerajaan gaib dan tempat tinggal Dajjal terbesar di Tanah Air. Bahkan dihuni siluman serta jin.

Versi lain menyebutkan perairan Masalembo sebagai daerah yang dikuasai Ratu Malaka, sosok gaib tak kasat mata yang diyakini sebagai ‘ibu atau ayah’ dari orang-orang Suku Laut. Oleh sebab itu, warga di Kepulauan Masalembo meyakini bahwa siapa pun yang hendak melalui perairannya, mesti memberi salam dan meminta izin pada para penghuni laut serta membawa sesajen khusus.

Apabila terjadi gelombang bergaris putih, maka itu merupakan tanda bahwa kawasan tersebut tak boleh dilewati. Jika nekat menerobos, maka nyawa taruhannya. Biasanya, orang-orang yang bandel dan tetap berlayar akan ‘disambangi’ cuaca buruk atau kelak akan bernasib sial sepanjang perjalanan.

Banyak Percaya Pulau di Masalembo Tempat Tinggal Dajjal

Letak kepulauan Masalembo berada di daerah ‘pertigaan’ Laut Jawa dan Selat Makasar. Ada tiga pulau utama di tempat itu, yaitu Pulau Masalembu, Pulau Masakambing dan Pulau Keramaian.

Keseluruhannya masuk dalam wilayah administrasi Kecamatan Masalembu, Kabupaten Sumenep, Provinsi Jawa Timur. Karena dikelilingi laut, sudah pasti mata pencaharian utama penduduk di ketiga pulau ialah melaut.

Perairan Masalembo merupakan satu dari beberapa wilayah perairan di Indonesia yang sering menelan korban, di antaranya KMP Tampomas II yang tenggelam pada 1981. Ketika itu, Selasa 27 Januari 1981, ratusan nyawa orang tak bisa diselamatkan.

Selain Tampomas II, masih banyak kejadian kecelakaan laut atau hilangnya pesawat udara di daerah perairan Masalembo. Di antaranya kapal Senopati Nusantara yang tenggelam pada 29 Desember 2006, hilangnya pesawat Adam Air pada 1 Januari 2007, tenggelamnya KM Mutiara Indah pada 19 Juli 2007, KM Fajar Mas pada 27 Juli 2007, KM Sumber Awal pada 16 Agustus 2007, KM Teratai Prima pada 11 Januari 2009, termasuk yang terbaru ialah tenggelamnya kapal perang milik TNI Angkatan Laut, KRI Teluk Jakarta 541.

Diketahui, kapal KRI Teluk Jakarta 541 tenggelam pada kedalaman 90 meter dekat Pulau Kangean, Jawa Timur pada Selasa 14 Juli 2020. Untungnya musibah yang menimpa kapal bermuatan 55 orang ABK tersebut tidak menimbulkan korban jiwa.

Disebut-sebut dulunya Masalembo merupakan wilayah kekuasaan Ratu Malaka. Di masa lalu konon perairan itu dikuasai oleh Dajjal, kumpulan makhluk halus dan siluman. Ketika melewati wilayah tersebut, masyarakat sering memberikan sesajen dan sesembahan agar bisa selamat. Bahkan dulunya pantang bagi siapa saja yang lewat tanpa membawa sesajen dan sesembahan, kecuali jika tak keberatan menjadi korban alias tumbal.

Konon, beberapa orang yang berhasil selamat melewati wilayah itu mengungkap bahwa mereka sempat melihat penampakan aneh dan misterius seperti seperti burung besar, naga, ular laut raksasa, dan sejenisnya.

Ada waktu-waktu tertentu yang dijadikan pantangan bagi nelayan untuk melaut, yakni antara Desember hingga Juni. Sebabnya karena di saat itu gelombang laut perairan Masalembo sangat tinggi.

Masyarakat juga mengenal istilah ‘garis putih’ untuk menggambarkan daerah yang biasanya banyak memakan korban. Garis tersebut menjadi batas wilayah aman bagi nelayan untuk melaut. Kalau masih ada yang nekat melintas, dipercaya orang tersebut tidak akan selamat, termasuk seluruh kapal dan bawaannya.

Artikel ini telah dibaca 0 kali

badge-check

Penulis Berita

Baca Lainnya

Tips Langkah Demi Langkah Memilih Rekan untuk Implementasi Sistem Teknologi Informatika

18 February 2024 - 09:57 WIB

Tips Menghindari Penipuan saat Belanja di Musim Libur Akhir Tahun

20 December 2023 - 07:48 WIB

Poco X6 dan X6 Pro Siap Gemparkan Pasar Smartphone pada Januari 2024

20 December 2023 - 06:07 WIB

Hadapi Era Digital, Pentingnya Menguasai Coding Sejak Usia Dini

15 December 2023 - 16:15 WIB

Cara Mudah Cek Daftar Pemilih Tetap Pemilu 2024 Lewat HP

14 December 2023 - 16:21 WIB

Mengenali 6 Gejala Motor Turun Mesin yang Perlu Anda Kenali

14 December 2023 - 15:50 WIB

Trending di OOTS