Menu

Mode Gelap

Bisnis · 25 Oct 2023 09:47 WIB ·

Produsen Makanan-Minuman Bersiap Melakukan Kenaikan Harga sebagai Respon Terhadap Pelemahan Rupiah


 Pelemahan kurs rupiah jelas merugikan bagi produsen makanan dan minuman (Foto: Istimewa) Perbesar

Pelemahan kurs rupiah jelas merugikan bagi produsen makanan dan minuman (Foto: Istimewa)

Berita Website – Produsen makanan dan minuman (mamin) di Tanah Air berancang-ancang menaikkan harga jual produknya untuk mengantisipasi tren terus melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS belakangan ini.

Nilai tukar rupiah saat ini memang terus melemah hingga mendekati level Rp 16.000 per dolar AS. Pada perdagangan Selasa (24/10/2023), kurs rupiah terhadap dolar AS berada di level Rp 15.849 per dolar AS.

Menurut Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (Gapmmi) Adhi S. Lukman, pelemahan kurs rupiah jelas merugikan bagi produsen mamin. Ini mengingat masih banyak bahan baku industri mamin nasional yang harus diimpor dari luar negeri.

Pelemahan rupiah juga menjadi pukulan berikutnya bagi industri mamin lantaran sektor ini juga terpapar dampak kenaikan harga dan keterbatasan pasokan gula rafinasi.

Kondisi ini mengakibatkan biaya terkait produksi, energi, dan logistik para pelaku industri mamin membengkak dalam beberapa waktu terakhir. “Biaya transportasi untuk ekspor dan impor tentu ikut naik karena itu pakai dollar AS,” tukas Adhi, Selasa (24/10/2023).

Bagi para produsen mamin kelas kakap, mereka umumnya sudah punya proyeksi jangka panjang terhadap dampak pelemahan kurs rupiah. Kalaupun produsen besar hendak menaikkan harga jual produknya, secara historis langkah tersebut baru akan dilakukan pada akhir atau awal tahun.

Selama penyesuaian harga belum terjadi, pihak produsen mau tidak mau harus menanggung penurunan margin laba.

Selain itu, sebelum menyesuaikan harga, tentu para produsen mamin besar harus bernegosiasi dengan pihak distributor dan ritel.

“Kami juga berusaha mencari alternatif bahan baku yang tidak terlalu terdampak oleh pelemahan rupiah,” ujar Adhi.

Di sisi lain, produsen mamin kecil cenderung lebih rentan terpapar oleh efek pelemahan rupiah dan tidak bisa berlama-lama mengurangi marginnya. Akibatnya, mereka lebih cepat dalam mengambil keputusan untuk menaikkan harga jual ke konsumen.

Alternatif lainnya adalah produsen tersebut akan mengubah ukuran produk atau kemasan yang dijual ke pasar sebagai upaya efisiensi biaya pengeluaran.

Gapmmi tentu berharap kurs rupiah bisa kembali stabil atau bahkan menguat di bawah Rp 15.000 per dolar AS. Dengan begitu, para produsen mamin akan lebih mudah dalam melakukan perencanaan bisnis dan meningkatkan kinerjanya pada masa mendatang. (Dari berbagai sumber/ Nia Dwi Lestari).

Artikel ini telah dibaca 0 kali

badge-check

Penulis Berita

Baca Lainnya

Semangat dan Kegigihan Chairul Anwar Bangun Bisnis IT untuk Menolong Masyarakat Kecil

18 December 2023 - 08:28 WIB

Harga Terjangkau Bagi UMKM, Teins Hadirkan Layanan dan Solusi di Bidang IT

18 December 2023 - 08:19 WIB

The Jungle dan Jungleland Gelar Promo Spesial Tiket Masuk untuk Pemegang KTP Jabodetabek

14 December 2023 - 11:47 WIB

Cek Harga Tiket Masuk Kebun Binatang Ragunan dan Kemudahan Pembelian Online

14 December 2023 - 10:35 WIB

Cara Ikut Lelang Barang Gratifikasi KPK dari Rampasan Koruptor

12 December 2023 - 16:46 WIB

Revitalisasi e-KTP Akan Berganti Menjadi IKD, Simak Langkah Aktivasinya di Sini

12 December 2023 - 11:23 WIB

Trending di Bisnis