Berita Website – Paparan masif konten pendek dan viral di platform digital seperti TikTok, Instagram Reels, dan YouTube Shorts kini mengancam kemampuan kognitif Generasi Z (Gen Z).

Perubahan signifikan pada pola pikir serta cara menyerap informasi ini memicu kekhawatiran besar dari para peneliti komunikasi dan pegiat literasi.

Riset terbaru dari medRxiv berjudul The Impact of Short-Form Video Use on Cognitive and Mental Health mengungkapkan bahwa konsumsi video pendek memicu siklus dopamine loop. Siklus ini membiasakan otak pengguna dengan kepuasan instan.

Dampak psikologisnya pun tidak main-main, meliputi penurunan kemampuan fokus, lonjakan kecemasan, hingga distorsi persepsi sosial.

“Gen Z cenderung lebih sering bereaksi cepat terhadap tren ketimbang melakukan analisis mendalam,” tulis laporan riset tersebut.

Perilaku impulsif Gen Z ini diperparah oleh fenomena psikologis Fear of Missing Out (FOMO). Kajian bertajuk Caught in the Scroll: A Psycholinguistic Exploration of FOMO and Viral Language menyoroti pengaruh besar penggunaan bahasa viral, slang, meme, dan singkatan.

Faktor-faktor tersebut mendorong anak muda terus mengikuti tren secara buta tanpa melakukan proses verifikasi data.

Peneliti komunikasi digital, Dr. Kamraju, menegaskan bahwa fenomena kebahasaan di ranah digital memegang kendali besar atas kondisi psikologis remaja saat ini.

Menurutnya, bahasa viral memperkuat tekanan sosial di dunia maya, sehingga anak muda merasa harus selalu update agar tidak tertinggal dari kelompoknya.

Menyikapi fenomena ini, Pegiat Literasi, Adis Cahyana serukan adanya gerakan pendampingan berpikir kritis agar generasi muda tidak mudah dikendalikan oleh algoritma media sosial.

“Gen Z paling rentan kehilangan kedalaman berpikir. Perlu ada gerakan literasi yang mengajarkan mereka cara berhenti sejenak untuk memverifikasi, bukan sekadar membagikan apa yang sedang ramai,” kata Adis. Kamis, (25/6/2025).

Adis juga menegaskan pentingnya langkah mandiri yang harus diambil oleh generasi muda untuk memutus siklus negatif tersebut secara konsisten.

“Masyarakat khususnya Gen Z harus mulai menerapkan metode pause before post, yaitu berhenti 10 detik sebelum membagikan konten untuk berpikir jernih,” ujar Adis.

Ia juga menyatakan bahwa generasi muda perlu melakukan diet durasi konten dengan membatasi konsumsi video pendek maksimal 30 menit sehari.

Terakhir, Adis menegaskan bahwa melakukan verifikasi terhadap setiap tren viral di media tepercaya adalah hal yang wajib dilakukan.

“Tanpa adanya edukasi literasi digital yang agresif, Gen Z dikhawatirkan akan tumbuh menjadi generasi yang rapuh secara kognitif dan mudah termakan oleh derasnya arus informasi palsu”,.pungkasnya.

Bagikan:

Berita Website

Aktual dan Faktual

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *