Berita Website – Penyandang disabilitas di Dusun Bonto Bulaeng, Bulukumba, Sulawesi Selatan kini menjadi pemasok tetap selada hidroponik untuk lebih dari 10 kafe, UMKM, dan restoran di empat kabupaten Sulawesi Selatan melalui greenhouse pertanian inklusif dalam program PELITA (Pemberdayaan Lintas Abilitas) yang diinisiasi Manava Foundation. Dalam beberapa bulan terakhir, kelompok petani ini berhasil menghasilkan pendapatan hingga lebih dari Rp60 juta dari hasil panen hidroponik mereka.
Menurut Data BPS 2022 tercatat 305.217 penyandang disabilitas bekerja pada sektor pertanian di Indonesia, dan sebagian besar mengalami kesulitan karena kurangnya alat yang ramah disabilitas, tidak adanya modal, pelatihan, dan kepastian pasar.
Menjawab tantangan tersebut, PELITA (Pemberdayaan Lintas Abilitas) menghadirkan sistem pertanian hidroponik inklusif yang dirancang agar lebih mudah diakses oleh petani dengan berbagai kondisi fisik. Seluruh proses budidaya dapat dilakukan dengan nyaman oleh para petani disabilitas dengan beban kerja yang lebih ringan dan fleksibel sesuai kapasitas masing-masing petani.
Namun, program ini tidak berhenti pada pelatihan budidaya saja, para petani juga didampingi dalam pengelolaan pascapanen, kontrol kualitas produk, negosiasi harga, hingga akses pasar agar hasil panen dapat terserap secara berkelanjutan oleh sektor HORECA dan UMKM lokal.
“Penyandang disabilitas bukan hanya penerima bantuan. Mereka memiliki kapasitas untuk menjadi bagian dari ekosistem ekonomi dan supply chain yang optimal jika diberikan akses, sistem kerja yang tepat, dan kepastian pasar.” ujar Iqbal Naufal, Program Manager PELITA.
Di 2025, kelompok petani PELITA berhasil menanam 22.693 benih selada hidroponik dengan tingkat keberhasilan tumbuh mencapai 81 persen. Program ini menghasilkan lebih dari 1.154 kilogram selada hidroponik, sementara pendapatan kelompok meningkat dari Rp7,2 juta pada Juni menjadi Rp14,7 juta pada November 2025.
Selain meningkatkan pendapatan, greenhouse PELITA kini juga berkembang menjadi ruang belajar pertanian inklusif yang mulai mengubah stigma sosial di lingkungan sekitar.
Hal tersebut kini berkembang menjadi ruang belajar pertanian inklusif yang telah menerima kunjungan mahasiswa, pelajar, dan masyarakat umum untuk mempelajari hidroponik secara langsung. Produk hasil panen petani PELITA juga telah dipamerkan dalam Pameran UMKM Disparpora serta acara NGO Connect di Jakarta.
“Dulu saya belum punya penghasilan tetap sendiri. Sekarang Alhamdulillah saya sudah bisa mendapatkan penghasilan setiap bulan dari hasil bertani,” ujar Ihwan, salah satu petani dalam program PELITA.
Di 2026, Manava Foundation sedang memperluas kapasitas produksi di Bulukumba, memperkuat jaringan offtaker ke sektor HORECA (Hotel, Restoran, Cafe) dan korporasi berbasis ESG, serta mereplikasi model pertanian inklusif ini ke wilayah lain di Indonesia.
“PELITA menunjukkan bahwa dampak sosial juga dapat berdampak pada kebutuhan dan peningkatan ekonomi. Kami percaya model seperti ini tidak hanya menciptakan akses ekonomi bagi kelompok yang selama ini belum memiliki kesetaraan akses dan kesempatan, tetapi juga dapat membantu perusahaan membangun supply chain yang lebih inklusif dan berkelanjutan sejalan dengan komitmen ESG dan pengurangan Scope 3 emissions mereka,” tutup Marisa Thara Wardhani, CEO Manava Collective.



