Berita Website— Bagi penyandang disabilitas seperti Margaleritha Rohi (Rita), 38 tahun, membantu berjualan saja sudah berat. Apalagi barang yang dijual adalah sirih pinang.

Namun, Rita menjalani semua itu dengan semangat. Semata-mata ingin membantu ibu sambung yang juga merupakan tantenya, Mariam Lay, 80 tahun.

Setiap hari dari pukul 09:00 WITA hingga 20:00 WITA, Rita berjualan sirih pinang di sebuah pasar di Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT).

“Kadang ada yang beli itu lima orang,” ujar Rita mengenang kesehariannya saat ditemui Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI, dikutip Jumat (14/8).

Dari membantu berjualan tantenya itu, Rita yang tak sempat mengenyam pendidikan, mendapat uang saku. Uang tersebut dia kumpulkan sedikit demi sedikit untuk modal.

“Aku bilang sama tante, aku mau usaha sendiri saja. Biar aku juga bisa memenuhi kebutuhan,” kata Rita.

Mariam sudah mengasuh Rita sejak masih bayi. Saat itu, dia tak tega membiarkan adiknya—ayah Rita—mengurus Rita. Sejak kecil Mariam sudah tahu bahwa fisik Rita tak sempurna, dari situ dia bertekad untuk membesarkan Rita.

Kondisi Rita ini menjadi perhatian Presiden RI Prabowo Subianto. Presiden bahkan mengundang Rita ke Jakarta untuk menghadiri pidato Kenegaraan di Gedung DPR/MPR Jakarta dalam rangka HUT ke-81 Kemerdekaan RI.

Di Kupang, Rita ditampung oleh Kementerian Sosial melalui Sentra Layanan Asistensi Rehabilitasi Sosial (Atensi) Efata di Naibonat. Rita diberi pelatihan menjahit di sana.

Saat di Sentra Efata, karena kondisi fisiknya, Rita tak bisa menggunakan mesin jahit biasa. Untuk memudahkan Rita bekerja, Sentra Efata memberikan mesin jahit khusus baginya.

Enam bulan berada di Sentra Efata, Rita semakin mahir menjahit. Rita pun bisa membangun usaha menjahit sendiri dan memproduksi pakaian.

“Tekadnya memang lebih kuat, sehingga usahanya tetap berjalan (hingga sekarang),” kata Kepala Sentra Efata Kementerian Sosial di Kupang, Tota Oceanna Zonneveld, menceritakan semangat juang Rita.

Tota berharap Rita kelak bisa menjadi penjahit profesional. Bahkan, bisa menjadi desainer.

“Yang kemudian produknya itu dibeli karena memang keren, bukan karena kasihan,” ujarnya.

Bagikan:

Berita Website

Aktual dan Faktual

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *