Berita Website – Journalism in the Age of AI: From Acceleration to Reimagination membahas perubahan jurnalisme akibat perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence. Buku ini tidak hanya menguraikan penggunaan AI untuk menulis, menyunting, menerjemahkan, dan mendistribusikan berita. Para penulis juga membahas dampaknya terhadap pekerjaan wartawan, kewenangan profesi, struktur ekonomi media, kekuasaan perusahaan teknologi, demokrasi, dan pendidikan jurnalistik.
Argumen utama buku dibangun melalui perbedaan antara akselerasi dan reimajinasi. Akselerasi berarti menggunakan AI untuk mempercepat kegiatan yang sudah dilakukan ruang redaksi. Reimajinasi berarti menggunakan perkembangan AI sebagai kesempatan untuk memikirkan kembali tujuan, bentuk, dan fungsi jurnalisme.
Penulis tidak menyatakan bahwa AI pasti menggantikan wartawan atau menyelamatkan industri media. Dampaknya bergantung pada cara teknologi dikembangkan, digunakan, dan diatur. Pilihan pengembang teknologi, perusahaan media, wartawan, pendidik, pembuat kebijakan, dan masyarakat akan ikut menentukan arah perubahan tersebut.
Prolog: Jurnalisme dan perubahan ekosistem informasi
Prolog menempatkan AI dalam perubahan yang lebih luas mengenai cara manusia menciptakan, mengakses, dan memahami informasi. AI memengaruhi persoalan kepengarangan, kreativitas, distribusi pengetahuan, kekuasaan platform, pendidikan, dan pertanggungjawaban demokratis.
Jurnalisme menjadi bagian penting dalam perubahan tersebut karena profesi ini membangun kewenangannya melalui pencarian kebenaran, akurasi, dan akuntabilitas. Ketika AI dapat menghasilkan teks, gambar, suara, dan video yang menyerupai karya manusia, muncul pertanyaan mengenai keaslian informasi, identitas pencipta, dan dasar kepercayaan masyarakat.
Para penulis menggambarkan berita sebagai barang publik, yaitu informasi yang manfaatnya tidak terbatas kepada perusahaan media atau pelanggan. Jurnalisme membantu warga memahami peristiwa, mengawasi kekuasaan, dan mengambil keputusan. Buku ini berusaha menjelaskan bagaimana jurnalisme sampai pada masa AI dan kemungkinan untuk membangun kembali institusi pers berdasarkan kepentingan publik.
Bab 1: Journalism’s Constitutive Moment
Bab pertama menyebut perkembangan AI sebagai constitutive moment atau momen konstitutif. Istilah ini berarti titik perubahan yang mengganggu pemahaman suatu profesi tentang peran, rutinitas, pembagian kerja, dan alasan keberadaannya.
AI memunculkan pertanyaan tentang siapa yang dapat disebut penulis ketika mesin membuat rancangan berita, apa yang dimaksud dengan pelaporan orisinal ketika AI merangkum informasi, dan bagaimana kepercayaan dibangun ketika konten sintetis menyerupai berita. Perubahan tersebut tidak otomatis menghancurkan jurnalisme. Namun, perubahan itu memaksa profesi ini merundingkan kembali hubungan antara manusia dan mesin.
Buku membuka pembahasan dengan menunjukkan kontradiksi yang dihadapi organisasi media. Sebuah perusahaan berita dapat menggunakan AI di ruang redaksi sambil menggugat perusahaan AI yang diduga memakai kontennya tanpa izin. Situasi ini memperlihatkan bahwa organisasi media ingin memanfaatkan AI, tetapi juga ingin melindungi kepemilikan dan nilai ekonomi karya jurnalistik.
Penulis kemudian membahas penelitian BBC mengenai kemampuan chatbot merangkum berita. Hasil pengujian menunjukkan kesalahan faktual, informasi yang sudah tidak berlaku, tanggal yang keliru, dan kutipan yang berubah atau dibuat-buat. Kesalahan semacam ini disebut halusinasi AI, yaitu keadaan ketika sistem menghasilkan informasi yang salah atau tidak memiliki dasar, tetapi menyajikannya seolah-olah benar.
Model bahasa bekerja dengan mengenali pola statistik dan memperkirakan susunan kata yang paling mungkin muncul. Karena itu, jawaban yang lancar dan meyakinkan tidak selalu akurat.
Konsep penting lain dalam bab ini adalah journalism’s hamster wheel atau roda hamster jurnalisme. Istilah tersebut menggambarkan keadaan ketika wartawan terus bekerja lebih cepat dan menghasilkan lebih banyak konten tanpa kemajuan yang sebanding dalam kualitas dan dampak jurnalistik.
Perkembangan web, blog, media sosial, dan perangkat seluler telah menambah kewajiban wartawan. Mereka harus memperbarui berita, mengelola berbagai platform, merespons khalayak, dan bekerja dalam siklus yang semakin cepat. Penulis menunjukkan bahwa penambahan produksi berlangsung bersamaan dengan berkurangnya tenaga redaksi dan meningkatnya kelelahan kerja.
AI dapat mengurangi pekerjaan rutin. Namun, peningkatan efisiensi juga dapat digunakan untuk menaikkan target produksi. Dalam keadaan tersebut, AI membuat roda hamster berputar lebih cepat.
Buku juga membahas AI slop, yaitu konten sintetis yang diproduksi secara massal tetapi memiliki sedikit usaha, orisinalitas, atau substansi. Banjir konten membuat masyarakat semakin sulit menilai validitas, asal, konteks, dan kewenangan informasi.
Perkembangan AI dalam jurnalisme dibagi menjadi tiga gelombang. Gelombang pertama, pada 2010–2015, menggunakan data terstruktur dan templat untuk membuat laporan olahraga, keuangan, gempa bumi, dan hasil pemilihan. Associated Press menggunakan Wordsmith untuk memproduksi laporan pendapatan perusahaan. Los Angeles Times mengembangkan Quakebot untuk mendeteksi gempa dan menyiapkan rancangan berita.
Gelombang kedua, pada 2016–2021, memperluas penggunaan AI ke analisis data, pencarian pola, personalisasi, dan dukungan investigasi. Reuters mengembangkan Lynx Insight untuk membantu wartawan menemukan tren dan kejadian yang layak diberitakan dalam kumpulan data.
Gelombang ketiga dimulai pada 2022 dengan berkembangnya AI generatif. Sistem dapat menghasilkan teks, gambar, suara, video, dan kode melalui instruksi bahasa sehari-hari. Kemampuan tersebut memperluas penggunaan AI, tetapi juga meningkatkan persoalan halusinasi, bias, privasi, hak cipta, dan konten sintetis.
Bab 2: The Newsroom Accelerates
Bab kedua membahas penggunaan AI dalam pekerjaan ruang redaksi. AI dapat membantu menemukan gagasan berita, memantau data, mengolah dokumen, melakukan transkripsi, memeriksa sumber, menghasilkan rancangan tulisan, dan menyesuaikan konten untuk berbagai platform.
Penulis menyebut AI sebagai serendipity engine atau mesin serendipitas. Serendipitas adalah penemuan sesuatu yang berharga secara tidak sengaja ketika seseorang sedang mencari hal lain. AI dapat menghubungkan informasi yang tersebar dan memperlihatkan pola yang sebelumnya tidak terlihat.
AI juga dapat digunakan sebagai sourcing auditor, yaitu alat untuk memeriksa pola penggunaan narasumber. Sistem dapat menunjukkan kelompok yang sering dikutip, kelompok yang kurang terwakili, dan ketergantungan media kepada sumber resmi. Namun, pengelompokan sumber tidak dengan sendirinya menentukan kredibilitas atau kualitas keterangan mereka.
Transkripsi merupakan salah satu penggunaan AI yang paling praktis. Teknologi ini menghemat waktu dengan mengubah rekaman menjadi teks. Namun, hasil transkripsi dapat salah mengenali nama, angka, istilah teknis, aksen, atau bahasa tertentu. Wartawan tetap harus membandingkan kutipan dengan rekaman asli.
Dalam pemeriksaan fakta, AI dapat membantu mengidentifikasi klaim dan mencari dokumen pendukung. Akan tetapi, bukti penting tidak selalu tersedia secara digital. Sistem juga dapat menggunakan sumber yang tidak tepat atau menciptakan rujukan yang tidak ada.
AI generatif dapat menghasilkan rancangan awal, judul alternatif, ringkasan, terjemahan, dan adaptasi berita. Satu artikel dapat diubah menjadi unggahan media sosial, naskah audio, video, atau versi bahasa lain. Kemampuan tersebut mengurangi pekerjaan berulang, tetapi juga dapat menambah jumlah konten yang harus diperiksa dan dikelola.
Otomatisasi membawa risiko kesalahan dalam skala besar. Jika sistem memakai data atau aturan yang keliru, kesalahan yang sama dapat muncul dalam banyak berita. Buku menampilkan kasus produk otomatis yang menghasilkan informasi bermasalah dan harus dikoreksi.
Bab ini membahas tiga persoalan etis utama. Pertama, transparansi, yaitu pertanyaan tentang kapan media perlu memberitahukan penggunaan AI kepada khalayak. Belum terdapat kesepakatan tentang batas penggunaan yang harus diungkapkan. Penggunaan AI untuk memperbaiki ejaan berbeda dari penggunaan untuk membuat seluruh berita atau gambar.
Kedua, bahaya, termasuk bias, diskriminasi, kesalahan representasi, dan kerusakan reputasi. Redaksi dapat memakai model yang tidak dapat mereka audit secara menyeluruh.
Ketiga, privasi. Data yang tersedia untuk umum tetap dapat menimbulkan risiko jika digabungkan untuk mengidentifikasi seseorang. Memasukkan informasi rahasia ke layanan AI komersial juga dapat membuka kemungkinan penyimpanan atau penggunaan ulang data tersebut.
Buku turut membahas prinsip human in the loop, yaitu keterlibatan manusia dalam proses penggunaan AI. Penulis mempertanyakan makna prinsip tersebut jika manusia tidak memiliki waktu, pengetahuan, atau kewenangan untuk memeriksa dan menolak hasil sistem. Kehadiran manusia secara formal tidak menjamin pengawasan yang bermakna.
Sejumlah organisasi berita telah menerbitkan pedoman AI. Pedoman tersebut mencakup verifikasi, perlindungan informasi rahasia, dan pemeliharaan standar jurnalistik. Namun, penelitian terhadap berbagai pedoman menemukan bahwa banyak ketentuan masih umum, tidak memiliki mekanisme pelaksanaan yang jelas, dan belum sepenuhnya memperhatikan pekerja lepas atau perbedaan sumber daya organisasi.
Penulis membedakan otomatisasi dan augmentasi. Otomatisasi berarti mesin mengambil alih pekerjaan. Augmentasi berarti teknologi memperkuat kemampuan manusia. Buku juga membahas kemungkinan AI menciptakan pekerjaan dan produk jurnalistik baru yang sebelumnya sulit dilakukan.
Bab 3: The New Architecture of Media Power
Bab ketiga membahas pergeseran kekuasaan dalam ekosistem media. Fitur jawaban berbasis AI pada mesin pencari dapat merangkum informasi langsung pada halaman platform. Pengguna tidak perlu lagi membuka situs media yang menghasilkan laporan asli.
Sebelumnya, kunjungan dari mesin pencari memberikan peluang pendapatan iklan, langganan, dan hubungan langsung dengan pembaca. Ketika jawaban tersedia di platform, perusahaan teknologi mempertahankan perhatian pengguna, sedangkan organisasi media hanya memperoleh atribusi yang belum tentu menghasilkan pendapatan.
Perubahan ini dijelaskan melalui konsep infrastructural power atau kekuasaan infrastruktur. Istilah tersebut merujuk pada kemampuan pihak yang menguasai sistem dasar untuk menentukan kondisi kerja pihak lain. Perusahaan teknologi mengendalikan mesin pencari, sistem rekomendasi, komputasi awan, model AI, iklan digital, data pengguna, dan analitik.
Media tidak sepenuhnya menguasai jalur yang digunakan untuk menjangkau khalayak. Perubahan algoritma atau ketentuan layanan dapat mengubah trafik dan pendapatan tanpa dapat dikendalikan organisasi berita.
Ketergantungan tersebut dapat menghasilkan infrastructural capture atau penangkapan infrastruktur. Kondisi ini terjadi ketika ketergantungan kepada teknologi eksternal mengurangi kemandirian organisasi. Media dapat bergantung pada perusahaan yang sama untuk memproduksi konten, menyimpan data, memahami pengguna, mendistribusikan berita, dan memperoleh pendapatan.
Ketergantungan kepada model dan infrastruktur yang sama juga dapat menghasilkan homogenisasi. Berbagai media mungkin memiliki pemilik berbeda, tetapi tetap menghasilkan pola konten serupa karena menggunakan data, sistem, dan ukuran keberhasilan yang sama.
Buku membahas dua tanggapan media. Pertama adalah perjanjian lisensi. Perusahaan media memberikan akses konten kepada perusahaan AI dengan imbalan pembayaran atau keuntungan tertentu. Perjanjian tersebut dapat menciptakan pendapatan dan meningkatkan atribusi. Namun, isi kontrak sering tertutup, posisi tawar media tidak seimbang, dan lisensi tidak mengembalikan kendali media atas hubungan dengan pengguna.
Tanggapan kedua adalah pendekatan adversarial melalui gugatan hak cipta atau pembatasan akses. Strategi ini berusaha mempertahankan hak atas karya jurnalistik. Namun, proses hukum mahal dan tidak langsung menyelesaikan persoalan trafik, distribusi, data pengguna, serta ketergantungan infrastruktur.
Ketimpangan lebih berat bagi media di Global South. Organisasi media menghadapi keterbatasan sumber daya, kurangnya representasi bahasa lokal, ketergantungan kepada teknologi asing, serta posisi tawar yang rendah.
Bab ini juga membandingkan regulasi Amerika Serikat, Tiongkok, dan Uni Eropa. Amerika Serikat menggunakan pendekatan yang terfragmentasi. Tiongkok menerapkan kontrol kuat terhadap data, konten, dan kesesuaian politik sistem. Uni Eropa memakai pendekatan berbasis risiko melalui EU AI Act.
Penulis menilai bahwa aturan mengenai transparansi, privasi, diskriminasi, dan pelabelan belum sepenuhnya menyelesaikan ketergantungan struktural media kepada perusahaan teknologi. Mereka menempatkan jurnalisme sebagai barang publik yang perlu dipertimbangkan dalam kebijakan regulasi.
Bab 4: Designing AI for Democracy
Bab keempat membahas hubungan AI, jurnalisme, dan demokrasi. Pengembangan AI berlangsung dalam dua logika dominan. Logika kapitalis mengutamakan pertumbuhan, keuntungan, efisiensi, pengumpulan data, dan perhatian pengguna. Logika otoritarian mengutamakan kontrol, pengawasan, stabilitas politik, dan pengelolaan perilaku.
AI membuat interaksi dengan informasi menjadi lebih personal, interaktif, dan terpusat. Pengguna dapat meminta jawaban yang sesuai dengan kebutuhan mereka. Namun, personalisasi juga dapat mengurangi pengalaman informasi bersama.
Demokrasi memerlukan ruang publik, yaitu kondisi yang memungkinkan warga memperoleh informasi, membahas kepentingan bersama, dan membentuk pendapat. AI semakin memengaruhi arena tempat komunikasi publik berlangsung melalui mesin pencari, chatbot, dan sistem rekomendasi.
AI juga mempercepat produksi disinformasi, gambar palsu, suara tiruan, deepfake, akun otomatis, dan pesan politik yang disesuaikan. AI tidak menciptakan manipulasi untuk pertama kalinya, tetapi menurunkan biaya dan meningkatkan kecepatan serta skalanya.
Perkembangan konten sintetis menimbulkan masalah autentisitas. Konten palsu dapat dipercaya sebagai asli, sedangkan bukti asli dapat ditolak sebagai rekayasa. Situasi tersebut dapat melemahkan kemampuan masyarakat meminta pertanggungjawaban pihak yang berkuasa.
Penulis menggunakan istilah democratic corrosion atau pengikisan demokrasi. Istilah ini menggambarkan melemahnya kondisi yang diperlukan untuk diskusi dan partisipasi demokratis akibat banjir konten, manipulasi, pengawasan, konsentrasi kekuasaan, serta hilangnya dasar informasi bersama.
Buku tidak menyatakan bahwa AI hanya membawa dampak buruk. AI dapat membantu menjelaskan kebijakan, menerjemahkan informasi, memperluas akses, dan mendukung partisipasi. Hasil tersebut memerlukan tindakan pada tingkat individu, organisasi, profesi, masyarakat sipil, dan regulasi.
Bab 5: Learning to Think in the Age of AI
Bab kelima membahas pendidikan dan kemampuan berpikir. Penulis menilai bahwa respons pendidikan terhadap AI terlalu banyak berfokus pada larangan dan kecurangan. Pertanyaan yang lebih mendasar adalah bagaimana pendidikan mengembangkan kemampuan manusia untuk berpikir, menilai, dan mencipta ketika AI dapat melakukan sebagian pekerjaan mental.
Buku menekankan pentingnya productive struggle, yaitu kesulitan intelektual yang membantu seseorang membangun pemahaman dan keahlian. Dalam jurnalistik, proses tersebut terjadi ketika mahasiswa menemukan gagasan, membaca dokumen, membangun sumber, memeriksa klaim, menyusun cerita, dan memperbaiki tulisan.
Jika seluruh kesulitan itu diserahkan kepada AI, pengguna dapat memperoleh hasil tanpa mengembangkan kemampuan yang diperlukan. Ketergantungan tersebut berisiko menimbulkan cognitive atrophy, yaitu melemahnya kemampuan berpikir karena pekerjaan mental terus diserahkan kepada teknologi.
Kemampuan AI digambarkan sebagai jagged technological frontier atau batas teknologi yang bergerigi. AI dapat sangat baik pada suatu tugas, tetapi gagal pada tugas lain yang tampak serupa. Batas tersebut sulit dilihat dan terus berubah.
Kesulitan ini menimbulkan miscalibrated trust, yaitu kepercayaan yang tidak sesuai dengan kemampuan nyata sistem. AI dapat menyampaikan jawaban salah dengan nada yang sama yakinnya seperti jawaban benar.
AI juga memiliki kecenderungan menarik karya menuju rata-rata statistik. Pengguna dapat meningkatkan mutu rata-rata pekerjaan, tetapi hasil berbagai pengguna menjadi semakin mirip. Hal ini dapat mengurangi keragaman, gaya pribadi, dan kekhasan lokal.
Karena itu, literasi AI tidak hanya berarti kemampuan menggunakan aplikasi atau menulis prompt. Literasi AI mencakup pemahaman tentang cara kerja, data pelatihan, keterbatasan, bias, privasi, pemeriksaan hasil, dan keputusan kapan AI tidak perlu digunakan.
Bab 6: Reimagining Journalism for the Age of AI
Bab terakhir membahas kemungkinan perkembangan vibe coding dan agentic AI. Vibe coding adalah pembuatan perangkat lunak melalui instruksi bahasa sehari-hari. Wartawan tanpa keahlian pemrograman dapat membuat alat analisis, visualisasi, dasbor, dan prototipe.
Agentic AI adalah sistem yang dapat memecah tujuan menjadi beberapa tugas, memilih alat, mencari informasi, mengolah bahan, dan menyusun hasil dengan campur tangan manusia yang terbatas. Beberapa agen dapat bekerja bersama dalam pencarian, penyuntingan, dan distribusi berita.
Penulis memperingatkan bahwa AI tidak selalu mengurangi pekerjaan. Penelitian tempat kerja menunjukkan bahwa AI dapat meningkatkan kecepatan, memperluas tugas, dan memperpanjang waktu kerja. Teknologi membuat tambahan pekerjaan terlihat lebih mungkin dilakukan.
Bab ini merangkum empat dinamika. Pertama, deprofessionalisasi, yaitu melemahnya batas keahlian dan kewenangan profesi. Kedua, penangkapan infrastruktur. Ketiga, pengikisan demokrasi. Keempat, penyusutan kemampuan kognitif.
Keempatnya dihubungkan oleh epistemic thinness atau kedangkalan pengetahuan. Istilah ini menggambarkan kesenjangan antara merasa mengetahui dan benar-benar memahami. Ringkasan AI dapat memberi kesan bahwa pengguna telah memahami persoalan, padahal konteks, sumber, dan perincian penting tidak diketahui.
Penulis kemudian menggunakan kerangka Jobs to Be Done. Masyarakat tidak menggunakan berita semata-mata karena menginginkan artikel atau siaran. Mereka menggunakan jurnalisme untuk memahami peristiwa, mengambil keputusan, menghadapi masalah, dan mengawasi kekuasaan.
Buku menawarkan empat tujuan reimajinasi jurnalisme. Pertama, membuat berita lebih mudah diakses dalam berbagai bahasa dan format. Kedua, membuat jurnalisme lebih tahan terhadap disinformasi melalui penguatan verifikasi dan investigasi sumber terbuka. Ketiga, membangun micro-relevance, yaitu menghubungkan informasi publik dengan kebutuhan konkret individu atau komunitas. Keempat, membuat jurnalisme lebih lentur dan bersifat percakapan sehingga khalayak dapat mengajukan pertanyaan lanjutan.
Reimajinasi tersebut tidak dapat dilakukan oleh wartawan dan organisasi media sendiri. Penulis menyebut perlunya keterlibatan warga, pendidik, regulator, masyarakat sipil, dan pihak lain yang memengaruhi kondisi kerja jurnalisme.
Buku ditutup dengan pilihan antara akselerasi dan reimajinasi. AI dapat digunakan untuk mempercepat produksi dalam sistem yang sudah penuh tekanan. AI juga dapat menjadi kesempatan untuk memikirkan kembali tujuan jurnalisme, pihak yang dilayani, dan bentuk informasi yang dibutuhkan masyarakat. Menurut penulis, arah perkembangan tersebut belum sepenuhnya ditentukan.
Penulis: Seth C. Lewis, Rodrigo Zamith, dan Tomás Dodds
Penerbit: Polity Press, 2026
