Berita Website – Bencana alam gempa bumi bermagnitudo 7,7 yang melanda Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Sabtu, 15 Agustus 2026 kembali menggerakkan kepedulian seluruh elemen masyarakat Indonesia. Di berbagai daerah, gelombang solidaritas penggalangan bantuan mulai mengalir deras untuk meringankan beban para penyintas.
Agar niat tulus masyarakat dan pemerintah ini dapat diterima secara optimal dan cepat oleh para korban, manajemen rantai pasok (supply chain) yang baik di lapangan sangatlah dibutuhkan. Kepala Program Studi S-1 Teknik Logistik di Institut Teknologi Insan Cendekia Mandiri (ITICM) Sidoarjo, Sutrisno Harianto, S.T., M.T., membagikan pandangan akademisnya agar bantuan yang dikirimkan benar-benar sesuai dengan kedaruratan di masa golden period (fase kritis) ini.
Sutrisno menyarankan agar donatur memprioritaskan barang-barang yang tidak memerlukan proses pengolahan lanjutan. Hal ini bertujuan untuk meringankan beban kerja relawan di lokasi bencana yang tengah berpacu dengan waktu.
“Di sana situasinya sangat urgent. Daripada mengirim pakaian bekas dan mi instan, kita malah jadi butuh waktu ekstra untuk memilah barang mana yang layak dan tidak. Pakaian bekas itu menuntut kita untuk menyortir, lalu mem-packing ulang,” terang Sutrisno saat dikonfirmasi, Minggu (16/8/2026)
Ia menggarisbawahi bahwa pemenuhan air bersih untuk minum dan sarana sanitasi (mandi cuci kakus/MCK) harus menjadi prioritas tertinggi. Selain itu, makanan siap saji, alat medis, serta fasilitas tempat tinggal darurat jauh lebih krusial dibandingkan makanan mentah yang membutuhkan air dan proses memasak.
Maksimalkan Pengadaan Lokal untuk Efisiensi
Di samping partisipasi masyarakat, pemerintah pusat juga telah bergerak cepat dengan mengirimkan 27 ton bantuan logistik dari Jakarta. Sebagai bentuk masukan konstruktif dari kacamata teknik logistik, Sutrisno menilai ada alternatif strategi yang bisa diterapkan ke depannya untuk mempercepat penyaluran.
Ia menganalisis bahwa metode pengadaan logistik dari wilayah terdekat (local sourcing) bisa menjadi opsi yang lebih efisien dari sisi waktu tempuh maupun biaya transportasi.
“Langkah pengiriman bantuan jarak jauh tentu wujud kepedulian yang luar biasa, namun jika ditinjau dari efisiensi rantai pasok darurat, ada baiknya kita juga mempertimbangkan opsi local sourcing atau pengadaan dari daerah terdekat yang aman. Cara ini dapat memangkas waktu tempuh atau lead time serta menekan kompleksitas moda transportasi yang berlapis, baik darat maupun udara,” jelasnya.
Dengan berbelanja kebutuhan pokok di provinsi penyangga terdekat yang aman, seperti NTB atau Sulawesi Selatan, lead time bisa dipangkas signifikan. Langkah ini juga dapat mengurangi kebutuhan moda transportasi berat, sekaligus membantu menggerakkan roda ekonomi wilayah sekitar area terdampak.
Standar Packing yang Aman Menuju Lokasi
Bagi berbagai komunitas yang saat ini tengah bersiap mengirimkan logistik secara mandiri menuju NTT, Sutrisno juga mengingatkan pentingnya standar pengemasan. Mengingat cuaca yang tak menentu dan medan darat yang cukup berat, keamanan fisik barang adalah kunci.
Ia menyarankan para relawan untuk menghindari penggunaan kardus bekas karena rentan hancur saat tertumpuk. Bantuan sebaiknya dikemas menggunakan kardus baru berjenis ganda atau double wall.
“Kita jangan gunakan kardus bekas. Ini kenapa? Karena ini mudah hancur. Kita gunakan kardus baru, atau misalkan kita double kardus, itu kan ada double wall,” pesan Sutrisno.
Selain itu, ia juga mengingatkan pentingnya melapisi kemasan dengan material anti-air serta mencantumkan label yang jelas agar isi paket mudah dikenali tanpa harus membongkarnya satu per satu. Optimalisasi ukuran kemasan juga perlu diperhatikan agar bobot dan ergonominya seimbang saat diangkat oleh relawan.
Setibanya di posko pengungsian yang biasanya memanfaatkan fasilitas seadanya, proses penataan barang langsung diuji. Sutrisno mengingatkan agar para relawan tidak lupa menyiapkan alas atau palet penahan.
“Dengan adanya palet ini kita aman, jadi tidak sampai langsung barang itu menyentuh tanah atau tempat-tempat yang lembap. Jadi paletisasi ini penting,” terangnya.
Lebih lanjut, tata letak di posko darurat juga harus diatur menggunakan sistem zonasi, mulai dari zona pangan, non-pangan, hingga area steril untuk kebutuhan medis. Relawan juga diimbau menerapkan metode First In, First Out (FIFO) agar barang yang masa kedaluwarsanya lebih awal, seperti susu dan makanan bayi, bisa didistribusikan terlebih dahulu.
Terakhir, Sutrisno menekankan pentingnya kedisiplinan dalam pencatatan melalui buku harian atau logbook.
“Kita juga bisa pakai logbook atau catatan harian, artinya nanti kita bisa tahu barang-barang mana untuk distribusi awal dan akhir, sehingga barang masuk dan keluar tercatat secara rapi dan manual, jadi bisa memanajemen distribusi barang dengan bagus,” pungkasnya.






