Berita Website – Puncak Keteladanan di Nahdlatul Ulama adalah Rais Am. Ia menjadi simbol moral tertinggi di NU, yang mestinya kalis dari potensi dipertanyakan asal usul harta di rumahnya. Apabila sosok Rais Am dianggap tidak wajar kekayaannya, maka pijakan moral NU bisa runtuh. Umat bisa kehilangan kepercayaan pada sosok ulama.

Demikian disampaikan penggagas Komisi Pemberantasan Korupsi Nahdlatul Ulama (KPK NU) Muhammad Sholihin di lokasi Muktamar NU di Tambak Beras Jombang, Sabtu (29/8/2026).

“Rais Am adalah simbol NU. Puncak Keteladanan ada padanya. Jika sampai dipertanyakan harta kekayaannya bahkan oleh seorang kyai pengajar di pondok Pesantren Tebuireng yaitu Kyai Musta’in Syafi’i, maka sungguh telah runtuh pijakan moral NU,” tutur pengurus pusat Ikatan Alumni Bahrul Ulum (IKABU) ini.

Sholihin yang juga memimpin Aliansi Santri Gus Dur menyatakan, peristiwa pelaporan ke polisi oleh kelompok orang mengatasnamakan Rais Am PBNU  terhadap Kyai  Mustain Syafi’i, telah menimbulkan keprihatinan di kaum nahdliyin. Lebih-lebih bagi para peserta Muktamar ke-35  NU di Ponpes Bahrul Ulum Tambak Beras Jombang.

“Di saat NU sedang Muktamar, ada kyai dilaporkan polisi hanya karena bersuara kritis menyerukan maju mungkar,” tandas alumni IAIN Sunan Kalijaga ini.

Dia sebutkan, pernyataan Kyai Musta’in Syafi’i bukanlah pencemaran nama baik, apalagi fitnah. Menurut Sholihin, Kyai Mustain telah menjelaskan bahwa yang beliau katakan adalah  keteladanan Sayyidina Umar. Yaitu memastikan setiap harta kaum muslimin harus jelas sumbernya. Apabila tidak bisa menjelaskan, maka harus dianggap harta syubhat bahkan haram. harus menjelaskan.

“Kyai Musta’in Syafi’i Tebuireng itu mengungkapkan rasa cinta pada ulama dengan jujur nan lugas, Harusnya diucapin terima kasih, bukannya dilaporkan ke polisi,” tandas tokoh NU asal Indramayu, Jawa Barat ini.

Bagikan:

Berita Website

Aktual dan Faktual

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *