Berita Website — Hidup dari kontrakan ke kontrakan dijalani Andre Kawaru, 31 tahun, sejak pandemi Covid-19 melanda pada awal 2020. Bulan madu pernikahan bersama Elisa Hendriati pada 2019 harus segera berakhir begitu pandemi menghantam.

Stabilitas ekonominya langsung terimbas. Sebagai sales sebuah perusahaan, pekerjaannya pun terancam.

Apa mau dikata, kontrakan yang berada di daerah rawan banjir pun dia ambil. Maklum, uang sewanya tergolong murah, hanya Rp390 ribu per bulan.

“Kondisinya sesuai harga, kalau tikus itu sudah kayak main bola di atas plafon,” kata Andre mengenang masa sulit saat ditemui Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI di rumahnya di Palaran, Samarinda, Kalimantan Timur, dikutip Jumat (14/8).

Tak sekadar gampang tergenang saat hujan, lingkungan kontrakan pun kurang aman. Tepat 20 hari tinggal di sana, Andre harus kehilangan sepeda motor. Kejadian itu juga terjadi tak lama setelah kelahiran putrinya.

“Setiap (rumah) sewaan kan beda-beda untuk harganya, apalagi (saat) Covid-19,” kata Elisa bercerita betapa sulit mencari kontrakan yang murah sekaligus meriah.

Andre, Elisa, dan putri mereka lantas pindah dari satu kontrakan ke kontrakan lain. Mereka mencari kontrakan yang lebih murah lagi seiring menipisnya uang yang mereka miliki. Tak bisa bayar kontrakan, mereka lantas berpindah ke kontrakan lainnya.

Dari berbagai masalah yang mendera, Andre memutuskan untuk meninggalkan profesi salesnya. Dia banting setir menjadi pedagang harian di pasar malam.

“Saya memutuskan untuk berhenti bekerja sebagai sales karena terlalu berat melepas penjagaan anak saya satu-satunya,” kata Andre.

Kadang, dia hanya membawa pulang Rp20 ribu dari profesi barunya. Namun, dia bersyukur masih diberi rezeki. Dan lebih bersyukur lagi memiliki istri yang tak henti-hentinya memberi motivasi.

Jalan terang lantas nampak dari kegigihannya. Melalui rekomendasi seorang teman, Andre dan istri akhirnya menemukan perumahan subsidi di kawasan Palaran. Rumah subsidi itu bagian dari Program Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) yang memang diperuntukkan bagi masyarakat berpenghasilan rendah seperti Andre.

Tak hanya bebas banjir, keamanan Perumahan Indah Kemilau 1 itu juga terjamin. Dan yang pasti, cicilannya sangat terjangkau. Andre dan keluarga mendapat rumah yang cukup lega yakni luas tanah 72 meter persegi dengan luas bangunan 36 meter persegi.

Melalui program rumah subsidi, keluarga kecil Andre akhirnya berhasil melangkah masuk ke rumah impian. Rumah yang luas, nyaman, bebas banjir, dan terbebas dari drama bertetangga. Bagi Andre, pencapaian ini terasa seperti mimpi.

“Rumah ini sebuah impian buat saya ya. Sebuah keluarga kecil yang hidup sederhana. Yang biasa pindah-pindah karena cari kontrakan yang pas,” kata dia.

Kini, ia bisa pulang ke rumah setelah lelah berdagang dan benar-benar beristirahat dengan tenang di istana kecilnya.

Perjuangan Andre bersama istri ini lantas mengetuk hati Presiden RI Prabowo Subianto untuk mengundangnya ke Jakarta. Andre menjadi salah satu dari delapan persona yang diundang Presiden untuk ikut merayakan HUT ke-81 Kemerdekaan RI.

Bagikan:

Berita Website

Aktual dan Faktual

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *