Berita Website – Di balik keterbatasan fasilitas kesehatan di daerah terpencil, ada kisah perjuangan yang jarang diketahui publik. Seorang bidan desa Vera Leli Septiana Boru Manullang yang bertugas di Puskesmas Desa Pangkalan Siata, Kecamatan Pangkalan Susu, Kabupaten Langkat, membagikan pengalaman heroiknya saat mempertaruhkan keselamatan demi menyelamatkan nyawa pasien.
Dia menyebut telah bertahun-tahun mengabdi sebagai tenaga kontrak dan kini berstatus PPPK Paruh Waktu itu mengaku menghadapi berbagai tantangan setiap hari. Tidak hanya melayani pasien dengan fasilitas yang terbatas, ia juga harus berjuang melawan sulitnya akses jalan, minimnya sarana kesehatan, hingga kendala transportasi menuju rumah sakit rujukan.
Dia mengisahkan peristiwa paling membekas terjadi pada 30 Juli 2026 ketika seorang pasien harus segera dirujuk ke Rumah Sakit Bidadari Mahkota Gebang karena kondisinya tidak dapat lagi ditangani di Puskesmas Desa.
Saat itu, pasien telah dipasangi infus. Namun hujan deras membuat jalur darat tidak dapat dilalui. Satu-satunya pilihan adalah menggunakan perahu untuk menyeberang menuju rumah sakit.
Perjalanan yang semula diharapkan berjalan lancar justru berubah menjadi perjuangan menegangkan. Ombak tinggi menghantam perahu hingga mereka beberapa kali terhempas ke tepi. Air laut yang surut membuat perahu sulit bergerak, sementara kondisi cuaca semakin buruk disertai hujan dan petir.
“Kami sempat meminta bantuan, tetapi sinyal telepon sangat sulit didapat. Saat jaringan muncul hanya beberapa saat, bantuan pun tidak kunjung datang. Akhirnya kami memutuskan tetap melanjutkan perjalanan demi keselamatan pasien,” ujarnya.
Di tengah perjalanan, Kepala Puskesmas menyewa perahu lain untuk menjemput rombongan. Namun perjuangan belum berakhir. Lumpur di kawasan pesisir membuat mereka kesulitan berjalan sehingga empat orang harus bergantian menggendong pasien agar bisa segera mendapatkan penanganan medis.
Dia tersebut mengaku sempat merasa takut, tetapi keselamatan pasien menjadi prioritas utamanya. Selama perjalanan, seluruh rombongan basah kuyup diterpa hujan dan ombak.
Setelah pasien berhasil dirujuk, ia baru menyadari kakinya terluka akibat terkena benda laut yang diduga berbisa. Kondisinya pun mengharuskannya menjalani perawatan di rumah sakit.
Menurutnya, kondisi seperti itu bukan hanya terjadi sekali. Sulitnya akses jalan, buruknya jaringan komunikasi, jauhnya fasilitas kesehatan, serta belum adanya puskesmas pembantu (Pustu) yang memadai membuat proses evakuasi pasien kerap menjadi perjuangan berat.
Karena itulah, ia berharap pemerintah memberikan perhatian lebih terhadap masyarakat di daerah pedalaman, terutama dengan membangun akses jalan, memperbaiki jaringan komunikasi, serta melengkapi fasilitas kesehatan agar proses rujukan pasien dapat dilakukan dengan lebih cepat dan aman.
“Saya membagikan kisah ini karena kejadian seperti ini sudah berulang kali terjadi. Saya berharap ada perhatian dari pemerintah agar masyarakat di daerah terpencil bisa mendapatkan pelayanan kesehatan yang lebih baik,” tuturnya.



